Relationships, Attitudes and Emotions of Human towards Nonhuman Primates in Indonesia by Julia Keil

For those who are interested in Primatology, Indonesia seems to be a paradise. It comprises, as Grow et al. noted (2010:1-5), the natural habitats of many nonhuman primate species including the only Asian great apes, orang-utans, as well as different lesser apes, monkeys, loris and tarsiers. Yet today many of these species are going to become extinct, mainly due to deforestation and pet trade. Before disembarking on my explorative study in Yogyakarta, Java and Central Kalimantan, I had heard about primates, who suffered from inappropriate husbandry conditions, as shown by National Geographic (2015:14), or were forced to perform as masked dancing monkeys, as shown by Zimbio (2015). In the eyes of so-called ‘Westerners’ such images of afflicted primates cause bewilderment, even disgust. ‘This is abnormal!’, ‘How can people do that?’, ‘Why do they have this lack of empathy?’, ‘Is this attitude somehow related to religion and culture ?’ I could hear from friends, colleagues and ‘Western’ informants or asked myself respectively.

Perjuangan Kampung Ledhok Timoho sebagai Kampung Organik oleh Fajar Riyanto

Pada awalnya kampung Ledhok Timoho hanya berupa lokasi tinggal dua orang (Pak Lala—meninggal pada 2014— dan Pak Harjono) yang sejak 1995 mendirikan rumah semi-permanen di bantaran sungai Gajah Wong. Pada masa itu sehari-hari kedua orang ini berprofesi sebagai pemulung/pengumpul barang-barang bekas dan mereka diberikan tanggung jawab untuk menjaga dan mengawasi proyek pengerjaan jembatan oleh Pemerintah Daerah. Berawal dari dua gubuk yang dibangun sebagai hunian Pak Lala dan Pak Harjono, kemudian beberapa orang yang sebelumnya tinggal di bantaran sungai dekat Kampus Unversitas Islam Negri (UIN) Yogyakarta dan mengalami penggusuran berpindah ke kawasan tersebut. Lama kelamaan warga yang sudah terlebih dahulu tinggal di kawasan ini pun mengajak saudara ataupun teman-teman mereka yang juga mengalami kesulitan mendapatkan tempat tinggal untuk pindah ke Ledhok Timoho. Sebagian besar dari warga Ledhok Timoho berasal dari luar Kota Yogyakarta. Lainnya ada yang berasal dari daerah lain di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan bahkan ada pula yang berasal dari Sumatera. Kebanyakan dari mereka rata-rata sudah lebih dari lima tahun tinggal di daerah lain di Yogyakarta sebelum akhirnya pindah ke Ledhok Timoho.

Membaca Arsip Foto Keluarga di Yogyakarta oleh Gatari Surya Kusuma

Ketertarikan saya pada arsip foto keluarga muncul setelah melakukan riset pendahuluan seputar pola pengarsipan di dunia fotografi. Saya menemukan beberapa perbedaan apa yang menyebabkan pola pendokumentasian arsip keluarga menjadi lebih menarik dibanding pola pendokumentasian arsip fotografi yang misalnya dilakukan oleh institusi atau lembaga resmi. Perbedaan ini utamanya dilatari nilai personal yang dilekatkan ke arsip foto keluarga ketimbang di lembaga. Setiap keluarga punya cara pandang yang berbeda atas foto, dan apa yang ditampilkan sedikit banyak berpengaruh pada citra atau status keluarga yang berkepentingan di lingkungan sosial yang lebih luas. Misalnya pemajangan dokumentasi foto yang akan memikirkan mana yang terlihat baik atau mana yang terlihat kurang tepat untuk dilihat orang dan pemilihan arsip foto mana yang perlu dilestarikan agar ingatan tentang satu keluarga tetap langgeng.

Troublesome Tourism: Informal Guiding in Yogyakarta by Fermin Suter

It is troublesome to be a tourist. If one is not entirely naïve – or cynical – he will eventually doubt the nature of his experiences. Do these people fool me, cheat on me, do they lie to me, alter certain things or events to please me, protect me from undesirable events? How would people behave ‘normally’, how would it have been, if I had not been around? What is staged, draped, exhibited for the only purpose that is me – us, the tourists – to see it? And, of course, finally: How much of a genuine reality can I actually grasp? But then again: how presumptuous is it to desire such a thing? Doubting the authentic nature of tourist experiences is indeed part and parcel of any touristic reflexivity: the presence of the foreigner (the traveller) inevitably changes the attention, the dynamics of any situation. In this respect, tourism faces ‘problems’ comparable to the ones anthropology has been dealing with for decades. Anthropology has institutionalised questions of how the presence of the researcher in the events, situations, communities, he is interested in is inevitable for any informed perspective while at the same time altering them.

Di Balik Layar: Catatan Reflektif Penyelenggara

Buah kolaborasi antara KUNCI Cultural Studies Center dan tim riset dari FU Berlin, Jerman dan University of Berne, Swiss, ini menargetkan pelatihan para peneliti dan aktivis muda dalam riset lapangan dan penulisan etnografis. Angkatan 2015 terdiri dari dua peneliti sastra dan seorang primatolog dari Jerman dan Swiss, serta dua mahasiswa fotografi dan satu orang dengan latar belakang pendidikan antropologi dari Indonesia.

Behind the Scenes: Reflective Accounts on Ethnolab

The collaboration between the KUNCI Cultural Studies Center and the research team from FU Berlin, Germany and the University of Berne, Switzerland, targets the training of young scholars and activists in ethnographic fieldwork and writing. The class of 2015 consisted of two literature scholars and one primatologist from Germany and Switzerland, two photography students and one trained anthropologist from Indonesia.

Yuk Mampir ke Lapak!: Interaksi di Lapak Merchandise di Gigs Musik-nya Yogyakarta oleh Bagus Anggoro Moekti

Sama halnya dengan musik, merchandise juga telah berkembang ke dalam banyak rupa dan fungsi. Kita akan lazim menemui segerombolan anak muda memakai t-shirt, hoodie, ataupun topi sebuah band tertentu di jalan atau coffee shop terdekat. Metode penjualan yang ditawarkan pun juga bermacam-macam mulai dari kolega terdekat, berbaur dengan distro, toko fisik, hingga memanfaatkan teknologi internet dalam bentuk online shop. Salah satu yang menarik adalah fenomena kehadiran lapak merchandise dalam acara musik atau gigs musik di Yogyakarta. Kehadiran lapak merchandise dalam acara musik tampak memberikan nuansa tersendiri bagi perhelatan acara musik itu sendiri. Apabila biasanya pola pengunjung pertunjukan musik itu adalah “datang–nonton–pulang”, bisa jadi berbeda dengan adanya kehadiran lapak merchandise. Kehadiran lapak merchandise bisa membuat nuansa area di sekitar konser yang tadinya tampak biasa-biasa saja jadi berbeda dan lebih hidup. Lapak merchandise juga bisa menjadi satu tempat “stop by”, sebelum atau sesudah pengunjung menikmati pertunjukan musik. Lapak merchandise juga tampak memberikan alternatif baru bagi para fans atau konsumen musik yang ingin segera membeli rilisan ataupun merchandise seusai menyaksikan pertunjukan musik. Lapak-lapak merchandise ini tampak seperti ingin menghadirkan kembali sebuah tradisi jual beli klasik, di mana penjual dan pembeli terlibat interaksi langsung dan memungkinkan terjadi pertukaran informasi di dalamnya.

Editorial

The first installment of the Ethnolab in 2015 has resulted in a collection of six working papers, which demonstrate the different research conducted by its participants on various social and cultural phenomena that constitute Yogyakarta’s everyday life. The uniqueness of each writing with regard to their topics, approaches and styles reflects the authors’ different backgrounds in discipline, interests and positionalities.

Pengantar

Ethnolab kali pertama pada 2015 telah menghasilkan sekumpulan enam kertas kerja, yang menampilkan beragam penelitian yang dilakukan oleh para pesertanya mengenai berbagai fenomena sosial dan budaya sehari-hari di kota Yogyakarta. Keunikan setiap tulisan dalam topik, pendekatan dan gaya mencerminkan latar belakang para penulis yang berbeda dalam hal disiplin, minat dan posisionalitas.

Two Weeks With Yogyakarta’s Post-Alternative Art Scene: From Alternative Spaces to Alternative Families by Mira Shah

When I came to Yogyakarta in early 2015, I wanted to find out more about this distinct form of alternative art and especially the spaces it is produced, shown and sold in. How would these have developed in the almost twenty years since the fall of Suharto’s regime; how would they have changed in the different political environment and with a globalized art world seeping into Indonesia? What would be its significance to a new, young generation of artists and cultural entrepreneurs? How would all these intersect with the aesthetics and affects of space?