Activities

Scroll down for English version

Terealisasinya Ethnolab merupakan sinergi produktif antara dua inisiatif formal yang berbeda, dengan KUNCI sebagai inisiatif kolektif yang berorientasi pada pengetahuan berbasis praktik dan pelibatan komunitas, dan The Researchers’ Affects yang merupakan kelompok kerja yang tumbuh di lingkungan kampus. Istilah ‘Lab’ dalam Ethnolab merujuk pada situasi laboratorium, yang dikembangkan untuk membuka ruang eksperimental, intelektual maupun fisik untuk para peneliti muda yang berkecimpung dengan etnografi dan berupaya untuk menerapkan beberapa aspeknya dalam berbagai riset, aktivitas kesenian dan aktivisme mereka. Sebagai situs bagi aktivitas kelompok yang terarah, Ethnolab menyatukan orang-orang dari latar belakang budaya dan disiplin ilmu serta bidang praktik yang berbeda.

Suasana Kelas saat lokakarya, dok.: KUNCI

Peneliti akademis yang berpartisipasi yaitu Fermin Suter dan Mira Shah, keduanya kandidat S3 di Institut Sastra Jerman, Universitas Berne, dan Julia Keil, mahasiswi S3 di departemen Psikologi Evolusioner di Universitas Freie, Berlin. Turut bergabung dalam kegiatan ini Bagus Anggoro Moekti yang bergelar sarjana (S1) antropologi sosial dan budaya dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (UGM) yang kini bekerja sebagai manajer untuk YesNoShop, sebuah toko merchandise musik daring, Fajar Riyanto mahasiswa S1 di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang mengambil jurusan fotografi dan aktif bekerja sama dengan komunitas Ledok Timoho, dan Gayatri Surya Kusuma, pekerja magang di KUNCI yang belajar fotografi di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Untuk memenuhi berbagai tujuan tersebut, Ethnolab menyelenggarakan beberapa sesi kelompok untuk memperkenalkan beragam aspek dari praktik etnografi kepada para peserta. Tahap awal meliputi kursus selama tiga hari penuh mengenai metode-metode etnografi dan peran afeksi dalam berbagai situasi kerja lapangan. Kegiatan ini difasilitasi oleh antropolog Thomas Stodulka, ahli etnografi- peneliti ilmu politik Samia Dinkelaker, dan Ferdiansyah Thajib dari FU Berlin, yang juga merangkap anggota aktif KUNCI. Mereka semua telah melakukan kerja lapangan selama lebih dari tujuh tahun di berbagai tempat di Indonesia. Untuk memperkenalkan mereka yang melakukan kunjungan dengan konteks lokal Yogyakarta, Ethnolab mengadakan forum diskusi dengan mengundang para akademisi, aktivis dan produsen budaya yang terlibat secara mendalam di bidang kajian yang ditargetkan oleh tiga akademisi Jerman dan Swiss: Lisistrata Lusandiana yang telah menulis tesis masternya mengenai wisata alternatif di Yogyakarta diundang untuk menanggapi Fermin Suter yang melakukan penelitian tentang hubungan afektif antara para pemandu wisata dengan turis di Yogyakarta. Sementara itu Mira Shah, yang memfokuskan diri pada perkembangan seni visual di kota itu, dipasangkan dengan Farah Wardhani yang pada saat itu menjabat sebagai direktur dari Indonesian Visual Art Archives (IVAA). Dan yang terakhir adalah kandidat S3 di bidang antropologi dan aktivis Kelsie Prabawa-Sear (University of Western Australia, Perth) yang diundang untuk bekerja sama dengan Julia Keil, yang sama-sama terlibat dalam hak-hak binatang dan kesejahteraan primata non-manusia di Jerman dan Indonesia.

Selama pelaksanaan Ethnolab, seniman asal Leipzig, Emanuel Mathias dan Franz von Bodelschwingh, seniman video asal Jerman yang tinggal di Istanbul, Turki juga turut bergabung. Keduanya merupakan seniman residensi KUNCI yang juga ambil bagian di proyek The Researchers’ Affects. Dalam kesempatan ini, mereka berkolaborasi dengan seniman asal Yogya, Zulchizar Arie, untuk merekam dan mengamati bagaimana para peneliti bekerja di lapangan melalui perspektif filmis. Karya artistik keluaran Ethnolab berjudul fieldwork 1 yang dihasilkan atas dukungan Institut für Auslandsbeziehungen (ifa), Jerman & Goethe Institute Jakarta kini sedang memasukin fase pasca-produksinya dan dalam waktu dekat dapat bisa disaksikan publik.

Menyusul sesi-sesi dalam kelas yang diadakan di KUNCI, enam peserta Ethnolab melangsungkan kerja lapangan masing-masing selama tiga minggu. Selama periode ini, pertemuan kelompok reguler diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam seminggu sebagai kesempatan bagi semua untuk berbagi temuan sementara dan merefleksikan tentang tantangan yang muncul serta kesan-kesan yang mereka alami selama proses kerja lapangan. Di akhir fase tiga minggu kerja lapangan tersebut, dua sesi tambahan diselenggarakan bersama para peneliti muda untuk mendiskusikan dan mendapatkan masukan kolektif atas pengalaman-pengalaman dan temuan-temuan mereka di lapangan. Di saat yang bersamaan, muncul pula rencana untuk menerjemahkan berbagai perjumpaan penelitian mereka menjadi kumpulan tulisan. Manuskrip yang ditampilkan di blog ini adalah hasil dari proses editorial panjang selama tepat setahun setelah kelas Ethnolab tahun 2015 rampung. Sebelum mengundang Anda untuk melihat enam kontribusi memikat dari ‘lulusan’ pertama kami, kami mendorong Anda untuk membaca pengantar redaksional yang membingkai enam kontribusi menarik tersebut dan juga catatan reflektif yang disiapkan oleh para penyelenggara Ethnolab, yang menelusuri berlangsungnya proses dinamis yang terjadi selama Ethnolab angkatan pertama di Yogyakarta pada awal 2015. Kami sangat menantikan kesempatan untuk melanjutkan kembali ‘sekolah lapangan’ yang mengesankan ini di Yogyakarta di tahun 2017!

 


 

The realization of the Ethnolab is a productive synergy between the two formally different initiatives, with KUNCI being a collective initiative oriented towards practice-based knowledge and community engagement, and The Researcher Affects’ being a working-group, which evolved out of academic environments. ‘Lab’ in Ethnolab refers to a laboratory situation, which was developed to provide an experimental, intellectual as well as physical space for young scholars engaging with ethnography and seeking to implement some of its aspects in their various research, art and activism. As a site for purposeful group activity, the Ethnolab brings together people from different cultural and disciplinary backgrounds and areas of practice.

The participating academic scholars Fermin Suter and Mira Shah, both Phd candidates at the Institute of German Literature, University of Berne, and Julia Keil, a PhD student from the Evolutionary Psychology department at Freie Universitat Berlin were joined by Bagus Anggoro Moekti, who holds a bachelor degree (S1) in social and cultural anthropology from UGM and who is currently acting as manager for YesNoShop, an online music merchandise shop, Fajar Riyanto, a bachelor (S1) student at the Yogyakarta Art Institute (ISI) who is majoring in photography and actively working with the urban poor community of Ledok Timoho, and Gatari Suryakusuma, an intern at KUNCI who studies photography at the Yogyakarta Art Institute (ISI).

To fulfill its objectives, the Ethnolab organized several group sessions to introduce the multifarious aspects of ethnographic practice to the participants. The initial phase included the three full-day courses on ethnographic methods and the roles of affect in fieldwork situations. These were facilitated by anthropologist Thomas Stodulka, ethnographer-political scientist Samia Dinkelaker, and anthropologist-cultural studies scholar Ferdiansyah Thajib from FU Berlin, who is also an active member at KUNCI. They have altogether conducted more than seven years of fieldwork in various places in Indonesia. To familiarize the international cohort with Yogyakarta’s local context, the Ethnolab held discussion forums inviting scholars, activists and cultural producers who have been crucially involved in the three German and Swiss scholars’ targeted fields of study: Lisistrata Lusandiana, who has written a master thesis on alternative tourism in Yogyakarta was invited to respond to Fermin Suter, who conducted research on the affective relation between tourists guides and their clienteles in the Yogyakarta. Meanwhile Mira Shah, who focused on the development of the city’s visual arts scene, was paired with Farah Wardhani who was then acting as the director of Indonesian Visual Art Archives (IVAA). Last but not least, PhD candidate in anthropology and activist Kelsie Prabawa-Sear (University of Western Australia, Perth) was invited to work together with Julia Keil, who is equally engaged in animal rights and the welfare of non-human primates in Germany and Indonesia.

Presentations of Emanuel Mathias, Franz von Bodelschwingh & Zulchizar Arie, image: KUNCI.

The Ethnolab was also joined by Leipzig-based visual artist, Emanuel Mathias and Franz von Bodelschwingh, a German video-artist who lives and works in Istanbul, Turkey. Both were KUNCI’s artists in residence and also associated with The Researchers’ Affects project. In this occasion, they worked closely together with Yogya-based artist Zulchizar Arie to visually capture and observe the observer through a multi-perspective filmic view. The artistic ‘offshoot’ of Ethnolab titled fieldwork 1 which was produced through the generous supports of Institut für Auslandsbeziehungen, Germany (ifa) & Goethe Institute Jakarta is currently entering its post-production phase and should be available for public viewing soon.

Following to the class sessions held at KUNCI, the six participants of the Ethnolab took up their respective fieldworks for the duration of three weeks. During this period, regular group meetings were held at least once a week as an opportunity for everyone to share their provisional findings and reflect on emerging challenges as well impressions that they experienced throughout the fieldwork processes. At the end of the three weeks fieldwork phase, two more sessions were conducted with the young researchers for discussing and getting collective feedback on their experiences and research findings. At the same time, plans of translating their various research encounters into writings transpired. The manuscripts presented in this blog are results of a continuous editorial process that could be finalized exactly one year after Ethnolab’s class of 2015 was completed. Before inviting you to explore the six alluring contributions from our first ‘graduates’, we encourage you to read the editorial note which frames the six exciting contributions as well as the reflective accounts that were prepared by the Ethnolab organizers and highlight the unfolding dynamic processes that took place during the first Ethnolab in Yogyakarta in early 2015. We cannot emphasize enough how much we are looking forward to continue this beautiful ‘field school’ in the heart of the city and host another class in 2017!