Perjuangan Kampung Ledhok Timoho sebagai Kampung Organik oleh Fajar Riyanto

Pada awalnya kampung Ledhok Timoho hanya berupa lokasi tinggal dua orang (Pak Lala—meninggal pada 2014— dan Pak Harjono) yang sejak 1995 mendirikan rumah semi-permanen di bantaran sungai Gajah Wong. Pada masa itu sehari-hari kedua orang ini berprofesi sebagai pemulung/pengumpul barang-barang bekas dan mereka diberikan tanggung jawab untuk menjaga dan mengawasi proyek pengerjaan jembatan oleh Pemerintah Daerah. Berawal dari dua gubuk yang dibangun sebagai hunian Pak Lala dan Pak Harjono, kemudian beberapa orang yang sebelumnya tinggal di bantaran sungai dekat Kampus Unversitas Islam Negri (UIN) Yogyakarta dan mengalami penggusuran berpindah ke kawasan tersebut. Lama kelamaan warga yang sudah terlebih dahulu tinggal di kawasan ini pun mengajak saudara ataupun teman-teman mereka yang juga mengalami kesulitan mendapatkan tempat tinggal untuk pindah ke Ledhok Timoho. Sebagian besar dari warga Ledhok Timoho berasal dari luar Kota Yogyakarta. Lainnya ada yang berasal dari daerah lain di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan bahkan ada pula yang berasal dari Sumatera. Kebanyakan dari mereka rata-rata sudah lebih dari lima tahun tinggal di daerah lain di Yogyakarta sebelum akhirnya pindah ke Ledhok Timoho.